See the World as It is from Within

May 23, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Salah satu hal paling melelahkan adalah ngobrol dengan orang yang selalu melihat segala sesuatu dari kacamata curiga, khawatir dan takut. Contoh paling gampang adalah saat pemilu legislatif awal minggu ini. Bicara soal menggunakan hak paling sakral dalam masyarakat demokrasi yaitu memilih orang-orang yang akan mewakili seluruh bangsa Indonesia. Bukan sekedar urusan kewarganegaraan, ini adalah ajang titip amanah – untuk masa depan bersama dan proses tumbuh kembang negeri. Denominasinya juga tidak main-main yaitu dana sekitar Rp. 10,000 trilyun berdasarkan prediksi paling konservatif hingga waktu 5 tahun kedepan. Narasi yang seharusnya mempertegas peran setiap orang Indonesia seringkali tidak berarti banyak saat pikiran sudah didominasi 3 hal itu tadi… curiga, khawatir dan takut.

Semua partai pernah terlibat korupsi, mana yang bisa dipercaya? Semua politisi busuk, siapa yang harus dipercaya? Walhasil, walaupun sudah disediakan beragam cara untuk meriset sendiri calon-calon perwakilan kita, masih saja ada yang memilih untuk tidak terlibat, tidak memilih dan tidak peduli. Krisis kepercayaan memang tampak dominan dalam kehidupan bermasyarakat, tapi apakah artinya tidak ada satupun yang bisa dipercayai sehingga tidak ada satupun yang tidak bisa dilakukan? Paling mudah memang menyalahkan segala sesuatu selain diri sendiri. Kalau sudah demikian memang jadi negatif, apatis dan tidak pedulian tampak paling masuk akal. Lebih melelahkan adalah jika orang yang dipenuhi kecurigaan, kekhawatiran & ketakutan itu adalah diri sendiri.

You deserve every leader that come and go in your life. Saya baru saja menuntaskan 2 buku menarik – kebetulan keduanya adalah karya biografi. Buku pertama bercerita soal kehidupan Nelson Mandela dan buku berikutnya mengenai Senator Amerika Serikat, John McCain yang pernah jadi penantang Presiden Barrack Obama saat pemilu tahun 2008. Banyak sekali persamaan menarik diantara keduanya: (1) Keduanya yang pernah dipenjara: John 5 tahun di penjara Vietnam Utara sementara mendiang Mandela harus melalui 27 tahun masa tahanan. (2) Keduanya menolak untuk dibebaskan lebih awal jika harus berkompromi dengan prinsip-prinsip dasar mereka. (3) Keduanya menjelma jadi figur terhormat dunia setelah keluar dari penjara.

You are responsible for all your success & failures. Jika diperhatikan cerita kehidupan mereka di penjara mendiang Nelson Mandela & McCain juga punya banyak persamaan. Setelah melalui periode frustasi menyalahkan semua orang dan seluruh dunia atas kemalangan yang menimpa mereka, akhirnya keduanya memilih berdamai dengan keadaan mereka. Keduanya punya kebiasaan unik dalam sel kecil mereka yang melibatkan olah fisik dan pikiran. Mandela lazim berlari-lari kecil hingga 3 Km setiap hari sementara McCain melakukan olah raga hingga keringat bercucuran. Mandela melatih pikiran dengan mencoba menemukan angka bilangan prima sebanyak-banyaknya sementara McCain berusaha mengingat hari-hari yang pernah ia lalui sejauh mungkin kebelakang.

You blame yourself the minute you blame others. Saat fokus perhatian, pemikiran & pengamatan bergeser dari hal-hal eksternal kedalam diri sendiri, maka begitu banyak hal bisa dicapai: Ketenangan, keberanian, ketabahan, keasyikan dan keberdayaan. Bagi Mandela dan McCain penjara tidak lagi memenjarakan, tidak juga melemahkan apalagi menumpulkan. Sebaliknya, penjara membantu proses tumbuh kembang sesuai dengan fitrah terbaik keduanya. Penjara memampukan, menajamkan & menguatkan.

Belajar dari Nelson Mandela & John McCain, kenapa kita masih saja melihat hidup ini sebagai penjara? Kenapa kita masih memandang Indonesia sebagai penjara yang menumpulkan kepedulian dan mewajarkan ketidakpedulian? Bisa jadi langkah pertama adalah bukan dengan melihat sekeliling namun kedalam. Mungkin saja semua jawaban sudah tersedia dari segenap relung dan lekukan hati kita masing-masing. Perhaps now is the time to see the world as it is from within. Perhaps it’s time to see the world beyond what’s possible.