Road to Mastery: Desirable Difficulties

May 23, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Jika saya menyebut kata “pendidikan” – bisakah menyebut nama-nama terkait kata itu yang terlintas dalam pikiran anda saat ini. Tanpa harus banyak berpikir atau melakukan riset mendalam, coba pilih dan tulis satu atau beberapa nama yang memang selalu berhubungan erat dengan kata “pendidikan.” Silahkan menulis nama siapapun yang anda pandang paling layak untuk diasosiasikan dengan “pendidikan.” Sudah? Bisa jadi anda menulis nama orang tua, atau guru panutan atau dosen favorit. Saya yakin mereka keren walaupun mungkin tidak (belum) dikenal banyak orang. Jika pertanyaan yang sama diajukan kepada sejumlah besar orang, maka saya percaya akan ada beberapa nama yang secara berulang kerap muncul. Mereka saya sebut sebagai para guru, orang-orang piawai atau dalam bahasa Sansekerta dengan sangat indah disebut sebagai para Begawan. Mereka terkesan memiliki kata terkait tersebut karena kepiawaian dan karya-karya mereka.

Mau tahu jawaban saya? Saya sebut 3 nama ini sebagai para Begawan pendidikan: Anies Baswedan, Ainun Chomsun dan Bukik Setiawan. Ketiganya bukan Menteri Pendidikan atau Dirjen dari Kementrian Pendidikan. Bukan juga Doktor atau Guru Besar – kecuali mungkin Anies Baswedan yang dipercaya memegang posisi sebagai Rektor Universitas Paramadina. Ketiganya juga tidak secara khusus menempuh gelar-gelar bidang pendidikan saat kuliah dulu. Bukik, penggagas aplikasi pendidikan anak @Takita punya latar belakang psikologi. Ainun Chomsun, penggagas @AkademiBerbagi kalau tidak salah jebolan akuntansi. Sementara Anies Baswedan dengan seabreg kiprah di Indonesia Mengajar, Kelas Inspirasi & Sang Penyala berlatar belakang bidang politik ekonomi. Nah lho!

The ONLY way to get better and better all the time = Desirable Difficulties. Apa yang membuat ketiga orang tersebut bisa dikenal, diakui dan disepakati sebagai para begawan? Jawaban ada pada karya-karya mereka. Dan tidak ada satupun karya hebat tanpa melalui proses pembelajaran diri yang panjang namun penuh makna dari sang empunya. Pembelajaran yang sudah pasti penuh kesulitan, tantangan dan cobaan namun dijalani dengan sadar, senang & tekun.

Undesirable difficulties = waste, regrets & pain. Tanpa melalui kesulitan maka tidak ada pembelajaran. Jika apapun sudah dijalankan dengan mudah tanpa terlalu banyak upaya maka dipastikan ruang untuk perbaikan sudah menyempit. Namun kesulitan belaka yang dilalui tanpa makna, tanpa keasyikan dan tanpa kesadaran hanya akan berujung pada kesia-siaan, penyesalan dan kepedihan.

The 10,000 hour rule matters! Sebagaimana dikutip dengan sangat baik oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya the Outliers, dia mempopulerkan temuan Herbert Simon & William Chase yang menyebut bahwa tahap kepiawaian akan dicapai setelah menekuni aktivitas tertentu selama 10,000 – 50,000 jam. Nah, dalam 1 tahun terdapat sekitar 8,765 jam – jika kita meluangkan waktu untuk mengasah kepiawaian sebagaimana karyawan dengan 5 hari kerja dan 8-10 jam per hari maka jumlah jam latihan terkumpul hanya sekitar 2,100 jam. Artinya dengan cara paling agresif sekalipun bakal dibutuhkan waktu antara 5-10 tahun untuk mencapai kepiawaian. Apakah anda bersedia berkomitmen untuk melakukannya?

Apakah ada cara untuk mempercepat proses menuju kepiawaian? Beberapa langkah antara lain: (1) Cari Coach untuk membantu proses tumbuh kembang sesuai fitrah melalui belajar, bekerja dan berkarya, (2) Tetapkan inner circle yang bisa saling memberdayakan – jika anda sudah jadi yang terpandai, terkeren dan termampu dalam kelompok maka anda bisa belajar dari siapa dong? (3) Ambil peran untuk membantu & melatih orang lain – tidak perlu pelit ilmu, tidak usah ragu dalam berbagi. (4) Waktu bukan uang. Karena waktu adalah denominasi paling berharga dalam kehidupan. (5) Fokus pada karya dan kreasi Passion without creation is nothing! What’s your desirable difficulties?