It’s Okay Not Always Knowing What to Do

May 6, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Memang selalu menyenangkan, atau mungkin lebih tepat, melegakan untuk “tahu”– tahu harus bagaimana, tahu apa & tahu kenapa. Buat para ilmuwan, tahu soal bidang keilmuan tertentu adalah ukuran kepiawaian. Buat kaum professional, “tahu” adalah indikasi pengalaman, kemampuan & kinerja. Buat pemimpin terlebih pemimpin negara, “tahu” banyak hal senantiasa jadi patokan awal pemimpin keren. Sedemikan rupa pentingnya kedudukan “tahu” sehingga” terkadang kita lebih memilih untuk jadi “sok tahu” daripada “tidak tahu.” Tidak percaya? Coba perhatikan beberapa program dialog di televisi yang sarat dengan ketidaktahuan yang dibalut dalam kesoktahuan. Petunjuknya mudah saja – perhatikan argumen-argumen yang cenderung berbelit-belit dan sulit dipahami. Ucapan seringkali berganti teriakan dan hardikan. Dan opini sepenuhnya didasari pendapat pribadi yang miskin validasi sehingga nama Sang Pencipta-pun harus dibawa-bawa untuk menambah bobot kesahihan. Itulah sok tahu. Tahu memang baik, namun tidak tahu tidak selalu buruk. Sementara sok tahu… ya, minimal menyebalkan tapi bisa juga membahayakan.

Bisa jadi ini tulisan orang sok tahu. Ya, saya terkadang merasa bisa jadi orang paling sok tahu hingga muncul rasa malu sebagai dewa penyelamat. Dalam beberapa hal saya memang tahu, namun dalam begitu banyak hal lain, saya sama sekali tidak tahu. Tempo hari ada yang bertanya arti dibalik sebuah nama dalam kesuksesan seseorang – hampir saja saya paksakan untuk menjawab dengan sok tahu. Akhirnya saya cuma berucap: “Wah, maaf, saya tidak tahu.” Walaupun tidak bisa menjawab, saya lega karena memang saya tidak tahu pasti.

To explore is always better than just to follow. Punya manual, sistem prosedur, job description dan seabreg petunjuk pelaksanaan memang memudahkan, tapi bukan untuk memastikan. Begitu banyak hal dalam pekerjaan, bisnis dan kehidupan memang tidak akan mungkin bisa dipastikan hingga terjadi. Tidak pasti = tidak tahu.

Life is not about finding yourself; it’s about creating yourself – George Bernad Shaw. Saat sedang meniti pekerjaan yang diidamkan dalam organisasi yang dipercaya, kehidupan terasa berjalan sesuai rencana. Jika tahun ini saya Manager dengan gaji 15 juta maka lima tahun lagi saya bisa jadi General Manager dengan gaji paling tidak 30 juta. Selamat, jika memang ini yang anda kehendaki.

Changes happen all the time, throughout your life. Atas nama kepastian, seringkali kita mewajibkan diri untuk segera menentukan pilihan. Segera pilih jurusan. Segera bekerja. Segera menikmati gaji. Segera menikah. Segera punya anak dan seterusnya. Tidak ada yang salah jika setiap keputusan diambil dengan pertimbangan selain daripada sekedar untuk memastikan hidup. Kenapa tidak? Karena tidak ada yang pasti dalam hidup selain apa yang saat ini dirasakan.

The HOW always follow the WHY. Bagaimana jika saya tidak tahu apa yang akan terjadi 5 tahun dari sekarang? Tidak tahu harus memilih yang mana? Tidak tahu mau kemana? Jawabannya: tidak apa-apa jika tidak tahu sekarang. Pada waktunya apa yang harus diketahui akan terbuka dengan sendirinya asalkan si empunya hidup senantiasa jujur terhadap yang dirasakan.

Tidak ada yang bisa dipastikan selain apa yang dirasakan. Mengikuti hati (baca: passion) punya resiko ketidakpastian yang tinggi. Dan ketidakpastian lazimnya bermuara pada kekhawatiran, ketakutan dan frustasi. Dalam kondisi ini, memilih apapun yang dipersepsikan sebagai kepastian terkesan lebih bijak, baik & masuk akal. Namun apa gunanya pilihan yang tidak bisa dirasakan, dinikmati & dimaknai. Tidak ada kepastian hakiki dalam pilihan hidup. Nikmati ketidakpastian proses tumbuh kembang diri dengan senantiasa memilih apapun yang penjadi panggjilan jiwa. Disini ada ketabahan, kegigihan & keasyikan. Disini ada karya dan makna. Sukses hanya sekedar konsekuensi. Embrace uncertainty. Passion gives the energy, mission provides the direction – this is the journey of creation & making meaning.