Absolutely No Absolute in A Person

April 24, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Duduk dibelakang setir mobil hampir pasti akan memunculkan sisi-sisi gelap kepribadian anda – terlebih jika anda mengemudi di jalan-jalan Jakarta. Percayalah, tidak perlu menyangkal. Awalnya sayapun begitu hingga belakangan terpaksa harus mengakuinya setelah melalui observasi panjang atas beberapa kejadian. Saya termasuk penikmat mengendarai mobil sendiri tanpa supir, selain juga karena proses mencari supir tidak beda jauh dengan mencari jodoh. Lengkap dengan playlist lagu-lagu andalan, koleksi audio book, sistem penyejuk yang handal, air minum dan biskuit tawar – menyetir kendaraan bisa jadi aktivitas yang menyenangkan. Idealnya semua baik-baik saja sampai muncul kejadian-kejadian “garuk kepala” yang hampir selalu terjadi: Truk raksasa yang dengan seenaknya memilih untuk pindah jalur tanpa mempedulikan kendaraan saya. Angkutan umum yang tiba-tiba memutuskan untuk ngetem. Motor yang merasa jalan raya adalah lintasan balap untuk diujicoba. Penyebrang jalan yang melintasi jalan bebas hambatan persis dibawah jembatan penyeberangan yang sudah disediakan. Dan seterusnya, dan sebagainya.

Jika sudah demikian, ketenangan yang dimunculkan saat awal mulai berkendara, hilang entah kemana. Awalnya cuma sekedar kata-kata makian dalam batin. Selanjutnya makian yang terucap. Lebih jauh lagi saling tatap antara saya dan pelaku menyebalkan dengan penuh kesebalan. Untung tidak pernah (amit-amit!) sampai keluar dari kendaraan untuk beradu mulut atau lebih gawat lagi beradu jotos. Ini kejadian sehari-hari yang bisa menambah satu kerutan di wajah saya. Bagaimana dengan anda?

Nobody is 100% good – or 100% bad. Paling mudah memang membentuk opini tentang orang lain terlebih jika tidak (belum) dikenal. Dan kita, manusia, memang paling tidak terlatih untuk bisa memilah antara perbuatan saat waktu tertentu, dalam kondisi tertentu dengan totalitas seseorang. Maksudnya begini: Saat truk mengambil alih jalur kita maka dengan sangat mudah terbentuk opini bahwa supir truk itu tidak tahu aturan, pengacau,… b****sek! Opini tersebut bahkan sangat mungkin terbawa untuk semua sopir truk lain.

It’s tough to think beyond conditioning. Saat kendaraan kita dipepet maka kesimpulannya pihak lain itu ya… jahat. Dalam kondisi demikian sedikit sekali diantara kita bisa memunculkan penjelasan adem untuk mewakili si supir truk. Mungkin dia dikejar setoran untuk segera sampai ke tempat tujuan – atau bahkan mungkin bakal kena penalty jika terlambat. Mungkin juga dia terburu-buru untuk segera pulang demi berjumpa keluarga yang sudah ditinggal 3 minggu – sementara si anak bungsu sedang sakit merindukan sang ayah. Siapa tahu? Atau lebih tepat mungkin… siapa peduli?

Situation does matter. Situasi pasti berpengaruh pada setiap orang. Siapapun. Dimanapun. Kapanpun. Sebelum menyalahkan pengendara motor yang sering melanggar marka jalan dan jalur busway, mungkin kita perlu merasakan panasnya, tidak nyamannya, bahayanya naik motor di Jakarta. Sudah pasti jauh berbeda dengan kenyamanan berkendara dalam mobil saya. Kenapa naik motor? Karena butuh transportasi namun tidak punya cukup uang untuk beli mobil. Karena transportasi umum yang menjadi wewenang Pemerintah tidak bisa diandalkan. Karena pilihan-pilihan lain tidak terbuka untuk mereka.

Tidak banyak, bahkan lebih sering tidak ada manfaat yang diperoleh saat menyalahkan, menghakimi dan menunjuk orang lain. Perilaku lebih sering dan hampir selalu didikte oleh situasi. Harus bagaimana? Pahami situasi, benahi kondisi & miliki empati. Khusus untuk rekomendasi terakhir soal empati, satu kalimat dari penulis & humanis favorit saya tampaknya sesuai untuk menutup bahasan ini: “I think we all have empathy. We may not have enough courage to display it.”