Who Are You, Really?

March 29, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

“Rene, kalau sudah besar mau jadi apa?” atau “Rene, apa sih cita-citamu?” Saya yakin anda juga pernah mengalami masa-masa saat ditanya sambil setengah diinterogasi oleh orang tua, keluarga, guru dan teman-teman orang tua kita. Pasti anda punya jawaban favorit yang bisa jadi berubah-ubah sejalan dengan perkembangan waktu. Saya pernah menyebut beragam profesi yang terasa keren waktu itu, contohnya: Dokter, penerbang tempur hingga astronot. Dokter? Cita-cita ini hampir kejadian jika saja saya tidak membantu seorang korban kecelakaan. Saat itu baru merasakan kalau ternyata saya sangat tidak nyaman harus bersentuhan dengan darah. Tidak sampai pingsan sih, tapi cukup membuat pandangan jadi berkunang-kunang. Jika saja jadi dokter tidak harus berurusan dengan cairan kental tubuh berwarna merah itu, mungkin saya sekarang sudah mengisi kolom kesehatan di harian ini. Penerbang tempur? Pupus saat tinggi badan tidak juga mencapai 170cm walaupun sudah berenang setiap hari. Ditambah lagi harus pakai kacamata karena rabun jauh – beruntung sekarang sudah normal kembali berkat teknologi lasik. Astronot? Langsung terkubur saat menyaksikan langsung peristiwa tragis meledaknya pesawat ulang alik Challenger tahun 1986. Bagaimana dengan anda? Apa sih cita-cita anda? Dan apa profesi anda sekarang?

Cita-cita sangat mungkin berganti. Aspirasi tentang hidup juga hampir pasti terus berubah. Demikian juga dengan nilai-nilai dan beragam aspek-aspek kehidupan lain. Namun saya percaya inti dari masing-masing diri kita akan selalu sama tidak akan pernah berubah. Inti diri atau bahasa kerennya core-self lazimnya dimanifestasikan dalam kepribadian secara umum. Jika anda dari dulu sudah kompetitif maka tidak akan berbeda jauh dengan sekarang. Preferensi terhadap keteraturan – atau bagi saya justru sebaliknya, masih tetap akan selalu sama. Fakta ini berlaku umum untuk kita semua.

You become more of you already are as you grow older. Perjalanan hidup dan proses tumbuh kembang yang terjadi seharusnya semakin menjadikan kita sebagai diri sendiri. Bisa diibaratkan bibit mangga tidak akan pernah menjadi selain pohon mangga saat bertumbuh kembang. Sekali lagi penentunya bukan kesamaan antara cita-cita dan kenyataan hidup namun segala hal yang anda rasakan saat ini. Apakah anda bersyukur, bahagia, terpuaskan, terpenuhi, berdaya – dan merasa menjadi diri sendiri sepenuhnya? Atau justru sebaliknya, anda justru terbebani, terperdaya, terbelit, marah, pesimistis apatis – dan sama sekali tidak merasakan jadi diri sendiri? Core-self atau inti diri berbeda dengan cita-cita, walaupun cita-cita sepantasnya terwujud dari inti diri.

Are you seeking out approval from others, or yourself? Apa yang menghalangi kita menjadi diri sendiri? Jika bisa dijawab 1 kata maka jawabannya adalah “HARUS.” Dunia – keluarga, sekolah, pertemanan dan semua tempat kita bertumbuh kembang terlalu didominasi begitu banyak keharusan. Harus masuk sekolah sesuai usia. Harus naik kelas. Harus ranking. Harus lulus Ujian Nasional. Harus dapat pekerjaan bergaji bagus. Harus menikah. Harus punya anak. Harus sukses. Dan berbagai bentuk “harus2” lain.

Are you doing what you were born to do? Keharusan tidak selalu jelek namun bisa jadi sangat buruk jika membuat kita terputus dengan core-self masing-masing. Jika sudah demikian kebutuhan untuk diterima dan diakui mengalahkan kebutuhan paling mendasar untuk mendengarkan kata hati… dan kebutuhan untuk merasakan.

Nah, jika mengacu pada jawaban anda saat ditanya cita-cita dulu sekali dan bagaimana dengan keadaan anda saat ini, apa yang anda rasakan? Apakah anda sudah bertumbuh & berkembang sebagaimana fitrah anda? Apakah anda sudah bisa mengekspresikan core-self anda sepenuhnya? Jawabannya sudah terkandung pada segala hal yang anda rasakan disini & saat ini. Saya akhiri tulisan ini dengan menyitir kalimat keren dari Agnes Martin, pelukis kondang Kanada: “There are so many people who don’t know what they want. And I think that, in this world, is the only thing you really have to know. Doing what you were born to do… That’s the way to be happy.”