You Need to Express Love to Feel Love

February 13, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Entah mana yang lebih buruk, ucapan salam tanpa makna atau tidak dipedulikan sama sekali. Berapa kali kita mengucapkan salam setiap hari kepada rekan kerja, kenalan baru atau bahkan keluarga? Berapa sering dari ucapan tersebut yang memang benar-benar dirasakan dan diniatkan lebih dari sekedar formalitas basa-basi belaka. Saya duga interaksi antar manusia sudah semakin didominasi percakapan tanpa makna sekedar atas nama kepantasan dan kepatutan. Nggak percaya? Silahkan coba bereksperimen dengan mengajukan kata sapaan atau jawaban yang sama sekali berbeda dari biasanya seperti: “Merdeka, bung!” (salam ini pernah tenar zaman pergerakan kemerdekaan hingga masa pemerintahan Soekarno dulu, jadi tidak ada salahnya kita coba mempopulerkannya lagi). Atau “All izz well” (kalau ini diambil dari film India favorit saya berjudul 3idiots). Sebagai jawabannya, coba jangan sekedar menjawab “baik” setiap kali ditanya “apa kabar?” – karena 99.99% orang akan selalu menjawab “baik” walaupun yang mereka rasakan sangat jauh dari “baik.” Sebagai gantinya coba jawab “kacau!” atau bisa juga “heboh” atau kata-kata lain yang beda dan bisa anda rasakan maknanya.

Eksperimen ini sudah berulang kali saya jalankan dan sejauh ini saya (sepertinya) baik-baik saja. Tidak ada yang kemudian lantas memusuhi saya karena keisengan ini – walaupun sebagian mungkin memilih untuk kabur setiap kali melihat saya. Hasilnya? Seringkali saya merasa lebih bisa dan lebih cepat nyambung dengan lawan bicara sehingga interaksi jadi lebih bermakna. Nah, pertanyaan pentingnya sekarang: Berapa banyak percakapan bermakna anda alami setiap hari? Dan apakah anda menjadikannya sebagai sebuah kepentingan?

There is no performance without meaningful conversation. Bisa jadi tidak ada mahluk yang lebih kompleks selain manusia. Problem dengan pasangan dirumah bisa berakibat pada kekisruhan di tempat kerja. Ketidakberesan menata keuangan pribadi hampir pasti berujung pada penurunan kinerja atau bahkan lebih serius dari itu. Faktor-faktor non teknis ini sangat berpengaruh pada kinerja karyawan namun seringkali dikesampingkan karena tidak dianggap relevan.

When you don’t feel what you say or do, nobody will. Beragam bentuk perangkat organisasi untuk memahami individu masih terlalu jauh dari memadai. Survey pegawai dan beragam variasinya yang dilakukan setiap tahun atau semester tidak akan cukup cepat merespon kebutuhan percakapan bermakna setiap individu setiap hari bahkan setiap saat. Pada akhirnya semua berpulang pada ada atau tidadanya dukungan pemimpin dan rekan kerja. Dan apakah pemimpin atau setiap rekan kerja bisa merasakan peran mereka sebagai pendukung satu sama lain?

Understand and speak only the language of love. Kinerja keren adalah hasil kerja kolektif individu-individu yang happy (baca: terlayani/terurus/ terpuaskan/tersalurkan dan seterusnya) dalam organisasi. Logikanya begini: Bagaimana mungkin mewajibkan karyawan yang tidak terlayani dengan baik oleh organisasi untuk bisa membuat konsumen merasa terlayani? Bagaimana bisa mengharapkan inisiatif, inovasi dan kreasi hebat muncul dari orang-orang yang tidak pernah merasa dipercaya, dikuatkan dan diberdayakan? Only happy people can make other people happier. Only people who are empowered can empower others.

Pembicaraan cinta harus diperluas dari sekedar perasaan diantara dua sejoli. Alangkah baiknya jika setiap rencana, ucapan dan tindakan didasari perasaan tulus untuk berbagi dan berbuat kepada sesama dan semua mahluk? Mungkin itulah cinta yang sesungguhnya. Learn to feel = learn to love = learn to be loved.