Wake up! Employees are Social

January 30, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Minggu lalu saya menulis tentang interaksi antar generasi dalam dunia kerja saat ini. Banyak respon yang saya terima – dan itu bagus karena memang harapannya tulisan ini menjadi awal dialog bermakna antar generasi yang semakin hari semakin dibutuhkan. Tulisan minggu ini juga punya misi serupa sekaligus melanjutkan beberapa pembahasan lanjutan. Dengan komposisi 40% dari total angkatan kerja profesional dan akan terus bertambah, peran Generation Y akan semakin penting bagi keberlangsungan dan pertumbuhan organisasi, industri dan negara.

Dalam waktu kurang dari 10 tahun, dunia kerja juga akan mulai dihuni oleh mereka yang lahir setelah tahun 2000 dengan sebutan Gen Z – bisa jadi segala kompleksitas dan keseruan yang terjadi saat itu bakal semakin hebat. Baik Gen Y dan Gen Z atau generasi-generasi yang hadir sebelum dan setelah periode sekarang adalah produk perkembangan teknologi-telekomunikasi-gaya hidup pada eranya. Apakah perusahaan dan organisasi kita sudah berfungsi sebagai wadah yang bisa memberdayakan mereka? Atau jangan-jangan penetapan bentuk dan aturan main organisasi model tahun 80an dan 90an justru melemahkan dan bahkan menghilangkan keunikan generasi-generasi baru ini?

Now and the future is about changes through technology & connectivity. Saya percaya problem terbesar saat ini bukan pada Gen Y dan bagaimana mereka berperilaku, namun bagaimana para pemangku kepentingan dalam organisasi mampu melihat, mempercayai dan memberdayakan Gen Y sebagai sumber ke-KEREN-an bagi organisasi. Melarang atau pengaturan berlebihan atas fenomena modern seperti sosial media justru akan melemahkan organisasi. Menutup diskusi untuk flexi-working hours, flexi-workspace dan seterusnya hanya akan menyuburkan ketidakpercayaan, ketakutan dan ketidakpedulian. Lagipula, apa manfaatnya memaksa seorang millennial (sebutan lain untuk Gen Y) untuk berpikir dan bertindak bagaikan seorang baby boomers atau Gen X?

Empowered individual will only empower the organization. Beberapa organisasi terkemuka didunia sudah dan akan semakin dominan dengan memberdayakan Gen Y. Tidak percaya? Coba lihat Google dengan pemasukan tahun 2013 diperkirakan melewati angka USD 60 milyard (sekitar Rp. 720 triliun – atau hampir separuh dari APBN Indonesia). Hasil ini kurang lebih 2x dan profit 4x lipat dari pesaing terdekat dalam bisnis mesin pencari, advertising & teknologi informasi – dan dicapai dengan hanya 40,000 karyawan. Bandingkan dengan jumlah pengawai negeri sipil yang mencapai angka 4.4 juta orang.

Empowering social employees = creating conversation piece every single time. Apa yang bisa dilakukan untuk memberdayakan social employee yang didominasi oleh Gen Y ini?
(1) LEARN TO LISTEN & ALWAYS LISTEN: Ini keahlian yang terbentuk dari kebiasaan mengendalikan diri. Mendengar tidak sama dengan menunggu giliran bicara. Dengarkan sepenuhnya, pahami makna dibalik setiap ucapan dan interaksi. Apa sih aspirasi mereka? Hal-hal apa yang hendak mereka ubah? Siapa figur-figur yang mereka percayai?
(2) HAVE A MEANINGFUL CONVERSATION: Ini tidak sama dengan bertanya “Apa kabar?” setiap pagi. Bukan juga sekedar pembicaraan sembari lalu atau diskusi hasil pantauan linimasa twitter/facebook mereka, namun mengawali sebuah proses panjang berupa percakapan bermakna antar manusia-manusia peduli.
(3) EMPOWER THEM TO EMPOWER YOU: Orang paling berdaya adalah orang yang mensyukuri keadaan mereka saat ini, mampu secara terus menerus memperbaiki & meningkatkan diri dan peduli untuk memastikan proses yang sama terjadi pada sekelilingnya. Keahlian, kebisaan & kemampuan ada pada anda – namun era ini dan masa depan terletak di tangan mereka.

Satu orang berdaya bisa melakukan banyak perubahan. Bayangkan sebuah organisasi yang dipenuhi oleh orang-orang berdaya. Sebagaimana pernah disampaikan oleh mendiang George Washington: “How far you go in life depends on your being tender with the young, compassionate the aged, sympathetic with the striving and tolerant of the weak and strong. Because someday in your life you will have been all of these.”