Hire Believers, NOT Workers

January 24, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

“Anak gini hari (baca: Gen Y – kelahiran antara 1980 – 2000) nggak tahan banting, baru ditegur sekali saja langsung ngambek dan kehilangan semangat kerja.” Atau komentar serupa tapi tidak sama: “Kerja itu gak bisa cuma mau enaknya saja. Mau jadi apa anak-anak muda masa kini jika setiap kali dapat penugasan yang nggak sesuai passion langsung minta keluar?” Ini beragam bentuk keluhan yang seringkali saya dengar dari para pemangku kepentingan dalam organisasi. Jika diperhatikan komentar ini sama sekali bukan didasari kebencian, namun ketidaktahuan dan mungkin.. kebingungan. Bukan kemarahan, namun kepedulian. Komentar-komentar ini umumnya disuarakan oleh para manajer yang berusia 40an keatas – ya, kurang lebih seumur saya. Bagaimana mau nyambung? Lha wong masing-masing hidup, berbicara, berpikir, dan bertindak dalam dunianya sendiri.

Gen Y, terutama yang lahir setelah 1990an hampir-hampir tidak pernah merasakan hidup tanpa google, facebook dan twitter. Sebagian besar tidak lagi baca koran sehingga hampir pasti tidak mengikuti berita utama harian yang lazim jadi pembahasan generasi sebelumnya. Asupan informasi mereka berasal dari teman-teman atau rockstars (baca: idola) yang muncul di linimasa twitter. Pada satu sisi pergaulan mereka bisa jadi sangat luas, namun pada sisi lain juga sangat sempit. Bagi Gen Y, kebiasaan nonton TV bergeser jadi nonton youtube yang jelas lebih instan dan menawarkan kemerdekaan memilih tontonan. Agenda, buku catatan dan ballpoint / pensil sudah usang – digantikan oleh sebuah piranti yang tidak mungkin bisa dipisahkan dari kehidupan Gen Y: smart phones! Sebagian teman-teman muda saya bahkan lebih menyukai pesan singkat lewat WhatsApp / Line / KakaoTalk (jika anda tidak paham bisa dipastikan anda bukan Gen Y) dibandingkan surel.

Companies, Wake Up! Your employees Are Social. Interaksi antar generasi belum pernah sekompleks dan semenarik sekarang. Perkembangan teknologi-telekomunikasi-gaya hidup mengakibatkan jarak 1 tahun terasa sedemikian jauh, apalagi jika lebih dari 1 dekade. Gen Y adalah produk era saat mereka dilahirkan, lengkap dengan semua kelebihan & kekurangannya. Permasalahan bukan pada Gen Y yang notabene tidak bisa memilih kapan mereka dilahirkan, namun apakah perusahaan bersedia mengubah cara pandang tentang Gen Y?

Say goodbye to fake culture & nonsense formalities. Kehadiran Gen Y saat ini mendominasi sekitar 40% dari total angkatan kerja di Indonesia. Jumlah ini akan terus berkembang sejalan dengan model demografis penduduk Indonesia. Setelah Gen Y akan hadir pula Gen Z! Rancang bangun sebagian besar organisasi yang masih didasari pemikiran tahun 80an dan 90an tidak akan mungkin bisa mengakomodasi kebutuhan saat ini. Tidak heran masih banyak perusahaan yang melarang penggunaan social media, mematok jam kerja kaku dan menetapkan kantor sebagai bilik kerja tanpa makna. Sehingga jangan bingung jika model perusahaan macam ini akan semakin ditinggalkan oleh tenaga kerja masa depan.

Individual can make a HUGE difference – this can be good or bad. Bagi saya Gen Y tidak berbeda dengan generasi-generasi lain yang datang sebelum ini – yang juga pernah muda. Bedanya Gen Y terkesan jauh lebih cepat, berdaya dan berani – berkat dukungan segala bentuk kemajuan eranya. Apa kunci bekerja dengan Gen Y? Dengarkan mereka! Beri mereka alasan untuk percaya. Beri mereka peran untuk berdaya. Dan beri mereka kesempatan untuk berkontribusi.

Kenapa masih hanya mencari pekerja berdasarkan universitas, tingkat kelulusan & gelar? Kamu kerja – kami bayar.. Kenapa hanya terpaku untuk sekedar bertransaksi dengan Gen Y? Bisa jadi respon ogah-ogahan adalah bentuk ketidaksetujuan diperlakukan seperti robot. Mungkin saja tingginya frekuensi pindah kerja karena mereka tidak menemukan alasan untuk terus bekerja tanpa karya. Generasi boleh beragam namun esensi karier tetap sama dan akan terus sama: Bahagia hakiki & kontribusi bermakna. Stop hiring workers! Instead, hire believers.

  • RudiBisnisLife

    Terimaksih arttikelnya rene’. Saya selalu.membaca setiap.minggu di harian.kompas. Sekrang buka yg onljne. Tulisan.ini membuat kami (www.proxsisgroup.com) semakin yakin untuk menjalankan sistem yg berbeda yang dimulai sejak 2007. Dimana karyawan bekerja untuk misi bersama dan diberikan kebebasan serta diberikan coaching tentang passion dan value, Mereka juga boleh bekerja dimana saja. Insan Proxsis dinilai dari.hasilnya atau disebut ROWE.(result only working environment). Dan alhamdulilah, growth selalu double tiap tahun dan berkembang menjadi 15 SBU/ 6 Perseroan dalam.waktu 6 tahun. Saya share ini, sebagai informasi bahwa “it works..”..trmksh. Rudi Maulana

  • Ciptasari Prabawanti

    Thanks Rene, Anda hadir dengan bahasan topik ini. Anak saya, 14 tahun, begitu dahaga dg diskusi-diskusi tentang future plan. Tidak sangka, buku Rene – Ultimate U & Yoris – creative junkies, dengan “terpaksa” saya sodorkan utk menjawab pertanyaan yg bertubi-tubi. Topik ini menjadi bahasan seru di rumah. Untung ada Rene!

  • Febryna Halim

    Thank you for sharing coach Rene

  • Luqman Ilham

    (y)

  • Makasih Om Rene buat pemikirannya. Kebetulan belakangan ini saya lagi ngerjain http://www.monsterfe.com. Baru mulai dan lagi proses ‘open recruitment’. Sejauh ini belum juga ada yang cocok krn rata2 adalah worker bukan believer. Yang saya liat adalah, masih banyak orang yang rela jadi robot krn berbagai pertimbangan yang tentu gakbisa dijudge. Btw, anjutkan Om!

  • Jaman berubah,. cara berpikir dan mengelola organisasi juga berubah,.

  • alfiandry

    Sy hidup dilingkungan pemerintah dan di dalamnya juga ada Gen Y, namun lingkungan pemerintah tidak sepleksibel diswasta dlm mengapresiasikan passion mareka shg potensi yg ada tidak berkembang optimal, shg dibutuhkan strategi yg jitu utk mendorong kinerja Gen Y tersebut. Trims sharingnya Rene

  • Budha

    Rene , bisa kasih tips gag ? pada saat interview employee how do we know ,kalau dia believers not workers?

  • Sarikit

    Thanks Coach Rene, totally agree kalau organisasi harus merubah sejalan dengan angkatan kerja dari Gen Y…dan tdk rigid thd perubahan