Let You Be You

January 17, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Masih menurut riset BCG (Boston Consulting Group) yang sudah beberapa kali saya jadikan referensi kolom ini, 60% lulusan perguruan tinggi pindah kerja sebelum memasuki tahun ke-3 pada pekerjaan pertama. Lebih jauh dari itu, 1/3 dari kelompok ini bahkan berpindah kerja lebih dari 2 kali dalam kurun waktu kurang dari 3 tahun. Penasaran dengan komposisi ini, saya iseng melakukan survey kecil-kecilan lewat twitter minggu lalu. Terdapat 3 pertanyaan saya ajukan: (1) Berapa lama kerja di tempat kerja pertama? (2) Rata2 masa kerja selama ini? (3) Usia anda. Silahkan tweet saya di @ReneCC jika ingin berparticipasi.

Ada sekitar 40an respon yang saya terima dalam waktu 1 hari dan hasilnya tidak jauh berbeda bahkan cenderung lebih dramatis dari survey BCG. Sekitar 85% mengatakan sudah pindah kerja sebelum tahun kedua dan rata-rata lama bekerja di satu perusahaan tidak lebih dari 3 tahun. Para responden mayoritas berusia dibawah 30 tahun dan sebagian lagi dibawah 40 tahun. Apa akibatnya bagi organisasi? Butuh biaya besar untuk rekrutmen dan training. Selain itu, kerugian dari sisi waktu dan kesempatan akibat tingginya perputaran calon-calon pemimpin organisasi di masa depan. Pergeseran sektor jasa dari tadinya memegang porsi 36% (2010) menjadi 41% (2015) justru akan memperburuk keadaan pasar dunia kerja karena kebutuhan talenta-talenta yang jauh lebih besar. Jangankan bersaing dengan tenaga kerja asing di kancah global, sebagian besar tenaga kerja Indonesia tidak akan mampu memegang posisi-posisi kunci dalam organisasi-organisasi di Indonesia.

What’s your reason to work beside money? Apa sebenarnya alasan lulusan perguruan tinggi pindah kerja dalam tempo begitu cepat? Apakah memang ini refleksi Gen-Y yang tidak betahan dan mudah tergoda? Atau mungkin terkait dengan rancang bangun organisasi yang sama sekali tidak siap menghadapi perubahan era, lifestyle dan beragam bentuk kelaziman baru lainnya? Apa pendapat anda?

Be clear about who you are. What you do. And – the why. Hal ini sering saya tanyakan dalam banyak kesempatan berinteraksi dengan kaum muda. Sebagian besar jawaban mereka persis seperti dugaan anda: Uang – lebih tepatnya gaji lebih besar dan/atau pangkat lebih tinggi. Dorongan teman dan lingkungan punya peranan besar, karena hampir semua mengatakan tidak (atau belum) butuh uang lebih banyak. Namun khawatir dianggap aneh jika harus menolak tawaran kerja lebih baik.
Live the way you want to be living. Tidak ada salahnya memilih keluar dari pekerjaan namun pastikan untuk alasan yang tepat. Sekali lagi, sebagaimana sudah berulang kali disampaikan dalam kolom ini: Uang sama sekali bukan alasan yang tepat – terlebih jika uang menjadi satu-satunya alasan.

Start with what you have, not with what you wish you had. Pilihan untuk memulai dari pekerjaan yang anda miliki di organisasi tempat bekerja sekarang bisa jadi jauh lebih luas dari dugaan anda. Lanjutkan proses eksplorasi, eksperimentasi dan kolaborasi untuk proses tumbuh kembang diri sebagai pribadi ataupun seorang profesional.

Pekerjaan adalah mandat, pilihan dan kesempatan untuk berkreasi dan berkarya. Pilih pekerjaan yang berpeluang memberi impact langsung pada bisnis, komunitas dan ekonomi. Pilih pekerjaan yang menawarkan peran utama dalam project sekecil apapun. Dan pilih pekerjaan pada organisasi yang memahami & mendukung proses tumbuh-kembang anda. Know that you are working with them, not for them. Or in the case of fresh graduates who are seeking jobs: Know that you are interviewing them as much as they are interviewing you. Be you! Be the ultimate you.