Figure Out Your Reasons to Stay, not Reasons to Quit

January 10, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Rupanya banyak yang tercolek oleh tulisan minggu lalu: “Please, Don’t Just Quit for More Money” Ada komentar, kritik, pertanyaan dan saran. Sebagian menyepakatinya, sebagian lagi mempertanyakan sumber datanya, dan banyak juga yang meminta penjelasan lebih lanjut terkait dengan hal-hal yang bisa dikerjakan individu atau organisasi untuk mengantisipasi kekisruhan ini. Ancaman yang harus dihadapi dengan postur dunia ketenagakerjaan kita memang nyata. Kalau boleh memberikan elaborasi lebih lanjut, begitu banyak problem yang harus ditangani pada saat yang sama: Ketidaknyambungan antara dunia pendidikan dan industri yang berakibat pada rendahnya employability rate (dibawah 10%) dan 400,000 sarjana menganggur tahun 2013. Ironisnya, pada sektor-sektor tertentu yang butuh keahlian teknis justru kekurangan orang: Saat ini semua perguruan tinggi Indonesia menghasilkan 30,000 insinyur setiap tahun sementara permintaannya mencapai lebih dari 50,000 insinyur. Gap 40% ini diperkirakan bakal melebar hingga 70% pada tahun 2025 jika tidak diambil langkah-langkah drastis oleh para pemangku kepentingan.

Problem lain adalah orientasi jangka pendek (terkadang teramat sangat pendek) rata-rata organisasi Indonesia untuk hanya mempekerjakan “orang jadi” berdampak pada peningkatan gila-gilan gaji para professional dalam bidang keahlian dan industri tertentu. Pada saat yang sama peningkatan frekuensi pindah kerja sama sekali tidak membantu proses tumbuh kembang calon-calon pemimpin dari dalam organisasi. Riset BCG (Boston Consulting Group) memberi ilustrasi bahwa hampir 60% lulusan sarjana pindah kerja sebelum tahun ke 3 masa kerja mereka.

Quiting for more money = Opting for no growth zone. Apa yang bisa anda benar-benar pelajari, dalami dan kontribusikan jika pindah kerja setiap tahun atau dua tahun? Tidak ada jalinan interaksi yang memberdayakan dan hampir-hampir tidak ada benang merah kesinambungan organisasi. Dampak problem-problem ini akan mengerucut pada gap 60% pada tingkat manajemen madya pada tahun 2020. Pada saat itu, dengan gap sebesar itu maka banyak organisasi lebih memilih untuk mempekerjakan karyawan asing dari India, Malaysia, Filipina, Australia dan seterusnya. Dan jika institusi besar kesulitan mencari tenaga kerja, bayangkan tantangan yang harus dihadapi wiraswasta kecil menengah. Ini semua sudah, masih dan akan terus terjadi saat jutaan manusia Indonesia menganggur.

Walk towards the positive, not away from the negative. Jadi apa yang bisa dilakukan? Sebagai individu: Jangan sekedar keluar untuk uang lebih tinggi dan jabatan lebih mentereng. Alasan untuk keluar kerja selalu bisa ditemukan jika dicari (baca: dicari-cari), namun proses tumbuh kembang butuh kesinambungan kerja, interaksi sehat dan kesempatan berkarya. Kalau boleh ditarik mundur sedikit, maka pastikan anda benar-benar memilih sebelum menyepakati tawaran bekerja dalam organisasi.

Focus on your next BIG thing >> your creation and your contribution. Jadi apa yang bisa dilakukan? Ada 3 alasan penting untuk tetap bekerja dan berkarya dalam organisasi tempat anda bekerja sekarang: (1) Apresiasi – dalam bentuk apapun bukan sekedar uang. Bisa tepukan di punggung, senyuman hangat, percakapan bermakna dan lain lain. (2) Ruang menumbuhkembangkan diri – apakah ada kesempatan dalam organisasi untuk mencoba hal-hal baru, menerima penugasan unik dan mengembangkan kebisaan jadi kepiawaian? Atau paling tidak keterbukaan & itikad baik untuk mendiskusikannya? (3) Makna – apakah ada keselarasan antara misi organisasi dan misi hidup anda? Mudahnya, apakah anda tahu untuk apa laporan keuangan yang anda susun, rencana penjualan atau riset yang anda kerjakan? Selalu lebih mudah bekerja untuk segala sesuatu yang kita yakini.

Saya percaya banyak organisasi di Indonesia yang menawarkan hal-hal tersebut. Kalaupun belum anda rasakan, bisa jadi kehadiran anda adalah untuk mengubahnya jadi sedikit lebih baik. Greatness begins from within. And there’re greatness in everyone and every organizations.

  • Aliffa

    Wow thanks for inspiring me coach! Saya hampir resign dr tempat magang saya (lebay ya padahal magang doang) karena sanking saya bekerja pake hati, hasilnya saya kecewa berat hanya karena ada miskomunikasi. Tapi stelah baca ini saya jd berfikir mungkin memang saya saja yg kebiasa enak dan ditempat inilah mungkin saya bisa mengembangkan diri & see the world in a different way. Yang saya ingin sampaikan adalah, ada segelintir org diperusahaan yang ga sadar bahwa the best asset in a company is not only customer, investor, nor stakeholders, but your employee. Karena employeelah yg membuat bisnis diperusahaannya berjalan ibarat sebuah gedung, employee adalah fondasi terkuatnya. Semoga employee2 diperusahaan lebih bisa dihargai lagi professionally as a human being. Maaf ya jadi curhat tapi saya ingin ikut berbagi disini, anyway stay young coach Rene!

  • Okky

    Jika perusahaan yang kita kerja sekarang ini tidak memberikan kita kesempatan untuk berkarya dan berkarier?apakah masih layak untuk dipertahankan jika kita mendapatkan kesempatan yang lebih baik lagi coach?