Gratitude – Physical Aspect

January 6, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Seperti telah diulas sebelumnya, Bersyukur (Gratitude) merupakan satu dari tiga penggerak Cycle of Passion & Purpose. Bersyukur bukan sekadar mind-set, namun merupakan perilaku dalam keseharian (Daily Practice) tentang dua hal: hal-hal yang kita alami, dan hal-hal yang dititipkan ke kita. Apa yang kita alami bukan kebetulan, sarat dengan pesan, ilmu, dan hikmah. Apa yang dititipkan pun bukan kebetulan, sarat dengan potensi dan amanat. Keduanya merupakan cikal bakal untuk mencipta. Itu sebabnya dikatakan di tulisan sebelumnya, Bersyukur merupakan awal dari Mencipta. Dari State of Being menjadi State of Transformation.
Tulisan ini akan mengupas tentang apa-apa yang dititipkan ke kita terlebih dahulu.

Hal yang paling nyata dari semua yang dititipkan adalah badan kita. Menjaga badan merupakan gabungan dari tiga hal sekaligus: tidur yang cukup, makan yang sehat, serta berolahraga, termasuk di dalamnya bergerak.

Sebagian menganggap kurang tidur dianggap setara dengan profesionalisme. Orang yang sering lembur dianggap memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Sebenarnya, sesekali lembur menunjukkan tanggung jawab, namun terlalu sering lembur menunjukkan ketidakmampuan mengelola pekerjaan dan/atau bekerja pada sistem manajemen yang tidak tepat. Tidur yang cukup merupakan keniscayaan. Profesor K. Anders Ericsson menyimpulkan bahwa untuk menjadi atlet dengan unjuk kerja terbaik, dibutuhkan 10,000 jam dari ‘deliberate practice’. Hal ini dipopulerkan oleh Malcolm Gladwell melalui bukunya Outlier. Yang tidak dibahas dari hasil penelitan ini adalah unjuk kerja dihasilkan melalui tidur rata-rata 8 jam 36 menit. Ya, tidur merupakan awal produktivitas dan kreatifitas. Tidur siang, 20-30 menit, pun kian populer digunakan sebagai cara untuk meningkatkan unjuk kerja di dunia kerja. Google, Deloitte Consulting, Zappos, The Hufftington Post, dan masih banyak lagi perusahaan yang secara sengaja menyediakan fasilitas untuk tidur siang. Tidur tidak sama dengan malas. Orang yang malas tidur sesungguhnya malas memelihara potensi badannya.

Tentang makanan yang sehat sudah banyak dibahas di berbagai media. Kita akan melihatnya dari sisi yang lain: cara makan. Makan cepat dan makan di tempat, diyakini sebagian dari kita, sebagai penanda profesionalisme. Makin cepat dan selalu makan di tempat, menunjukkan kesibukan yang tinggi, dan sibuk adalah tanda profesionalisme. Belum tentu. Makan yang baik justru dilakukan bersama dengan orang lain, di tempat yang agak jauh dari kantor, dan ditempuh dengan berjalan kaki, dengan lama makan setidaknya 20 menit.

Makan bersama orang lain meningkatkan hubungan baik dan menambah kesempatan untuk meluaskan kekerabatan (networking). Networking bukan memiliki banyak follower di twitter maupun teman di facebook, tetapi memiliki intensitas hubungan yang baik. Dan intensitas hubungan yang baik terjadi ketika kita menolong yang lain. Ya, networking berarti menolong orang lain. Karena hanya dengan itu, pada saatnya bantuan yang kita perlukan datang, dan hal ini tidak selalu dari orang yang pernah kita bantu.

Olahraga juga telah nyata manfaatnya, karenanya tidak akan dibahas disini. Mari kita lihat sisi olahraga yang agak jarang dibahas: tidak duduk berlama-lama. Rata-rata orang duduk lebih lama dibandingkan rata-rata ia tidur. Orang yang duduk hanya 4 jam saja sehari, menurut British Journal of Sports Medicine, akan mengalami gangguan cardiovascular, diabetes, cholesterol, dan obesitas. Begitu kita duduk, kemampuan kita membakar kalori menjadi nol. Melakukan one on one meeting sambil berjalan di udara terbuka, biasa dilakukan oleh Steve Job, Mark Zuckerberg, Jack Dorsey, Harry S Truman, Sigmund Freud, Charles Dickens. Apakah kita bekerja sambil berdiri? Disarankan, namun jangan terlalu lama. Ternyata studi yang dilakukan oleh University of California Berkeley menunjukkan bahwa berdiri terlalu lama beresiko adanya pengerasan pembuluh darah arteri. Artinya, jangan duduk dan jangan berdiri terlalu lama. Bekerjalah dengan variasi dalam kondisi diam dan bergerak

Tidur yang cukup, makan yang sehat, dan bergerak yang memberi manfaat, perlu dilakukan secara sekaligus. Ketiganya juga saling mempengaruhi. Olahraga akan membuat tidur lebih nyenyak, dan tidur yang nyenyak akan mengurangi rasa lapar, serta cukup nutrisi akan membuat mudah berolahraga. Dan seterusnya.

Hal-hal diatas hanya segelintir contoh saja tentang bagaimana kita memanfaatkan badan yang dikaruniakan. Bukan sekadar hidup sehat, namun hidup yang bermakna. Bukan sekadar umur yang panjang, namun umur yang berguna. Makna dan guna hanya bisa dilakukan ketika kita memelihara tubuh kita. Dengan demikian bersyukur adalah bersiap, sebelum melakukan karya. Persiapan yang dilakukan setiap hari, setiap saat, karena berkaryapun juga dilakukan secara sedikit demi sedikit yang kemudian terakumulasi menjadi karya terbaik kita.

SELANJUTNYA
Selain kebersyukuran jasmani, untuk berkarya kita juga membutuhkan kebersyukuran rohani kita. Nantikan tulisan selanjutnya.
Colek saya di @ivandeva