Please, Don’t Just Quit for More Money

January 3, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Selamat tahun baru 2014, semoga tahun ini jadi titik awal pembaharuan dalam karier, bisnis dan kehidupan untuk kita semua. Tahun baru, resolusi baru dan semangat baru. Kira-kira hal baru apa saja yang bakal terjadi tahun 2014? Presiden baru? Sudah pasti akan terjadi diantara bulan Juli – Oktober tahun ini. Pacar baru? Boleh-boleh saja asalkan sudah beres dengan yang sebelumnya. Pekerjaan baru? Nah, seru nih! Dan memang saya jadikan topik pembahasan dalam tulisan kali ini. Banyak alasan pindah kerja tapi kalau boleh jujur faktor U alias uang memang paling dominan. Termasuk didalamnya alasan dengan judul berbeda tapi bermakna sama, misalnya: Mencari tantangan baru (baca: duit). Mencoba tanggung jawab lebih besar (baca: duit juga). Atau, menimba pengalaman di tempat lain (baca: lagi-lagi duit).

Pilihan untuk pindah kerja adalah keputusan pribadi. Sah-sah saja asalkan dijalankan dengan alasan tepat. Dan saya tegaskan disini: UANG BUKAN ALASAN TEPAT UNTUK PINDAH KERJA – terlebih jika secara sadar atau tidak uang dijadikan satu-satunya alasan pindah kerja.. dan bekerja. Sungguh menyedihkan. Apakah anda mau pindah kerja dengan bayaran lebih kecil dari gaji sekarang? Atau jika ditanyakan dalam bentuk berbeda: Apakah anda bersedia pindah tanpa mengetahui gaji yang akan anda terima? Bisa jadi dua pertanyaan ini terkesan aneh bahkan bodoh. Tapi jika jawaban anda “tidak” untuk keduanya bisa dipastikan urusan uang/duit/gaji masih mendominasi keputusan anda pindah kerja. Sebelum saya dituduh sebagai penyebar ajaran sesat anti uang, mudah-mudahan anda akan tuntas membaca tulisan ini dan bersedia mengkaji argumen-argumen yang saya ajukan.

Everyone looks for shortcuts, but there are no shortcuts. Kelaziman pindah kerja semata karena uang akan berakibat buruk pada proses tumbuh-kembang anda sebagai pribadi & profesional. Lebih mengkhawatirkan lagi, kelaziman ini sudah, masih dan bisa jadi akan terus memicu orientasi jangka (sangat) pendek dengan mengorbankan pertimbangan jangka panjang pada organisasi, industri dan ekonomi Indonesia. Nah lho!

By 2020, there will be 56% shortage of mid-level managerial roles in Indonesia – BCG (Boston Consulting Group) Report. Prosentase ini bisa diartikan 56% manager pada tahun 2020 akan diisi oleh orang-orang dengan kecakapan dan kemampuan dibawah rata-rata. Prosentase juga bisa dimaknai bahwa 56% manager pada tahun 2020 akan diisi oleh profesional dengan nama belakang seperti Kumar, Smith, Kim atau Ching. Oh, paspor mereka dipastikan ada gambar burung garudanya. Anda OK dengan kondisi ini?

400,000 university graduates are unemployed in 2013. Sungguh tragis melihat kekurangan calon-calon pemimpin pada berbagai level manajerial sementara pada saat yang sama terdapat kurang lebih 400,000 sarjana menganggur pada tahun 2013. Kajian BCG ini pernah saya angkat dalam tulisan beberapa waktu lalu. Banyak komentar dan tanggapan yang saya terima namun masih jauh dari memadai bahkan untuk sekedar memulai forum diskusi yang konstruktif.

Money will complicate even the simplest matter. Masih banyak organisasi membajak profesional pada berbagai level tanpa mempertimbangkan kebutuhan untuk menumbuhkembangkan calon-calon pemimpin dari dalam. Masih terlalu dominan pemimpin perusahaan yang sekedar melihat manusia sebagai sumber daya tanpa mempedulikan keharusan untuk memanusiakan manusia. Tidak heran uang menjadi satu-satunya bahan diskusi dalam interaksi organisasi dan individu.

Kembalikan fungsi uang sebagai alat, bukan tujuan. Jika anda memilih pindah kerja, pastikan bukan karena soal duit. Percayalah, tidak ada kata cukup untuk uang – Dan kenaikan gaji yang tidak diimbangi peningkatan kemampuan hanya akan berujung pada kekecewaan. Mau pindah kerja? Silahkan saja. Focus on where you are going as much as what you are doing. When you leave your job, what will you have to show for it?