Cycle of Passion and Purpose: Gratitude, Creation, & Empowerment

January 2, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Menyambung bahasan sebelumnya, mendekati Passion dan Purpose bukan hal yang mudah. Berikut adalah tiga hal yang diperlukan untuk memudahkan perjalanan mendekati Passion dan Purpose tersebut.

1. Yang pertama perlu dilakukan adalah pola hati, pola pikir, serta perilaku kita dalam keseharian, yang umum disebut sebagai sikap keseharian. Sikap keseharian terbaik agar kita mampu mendekati Passion dan Purpose kita adalah Kebersyukuran (Gratitude) akan semua yang diterima dalam hidup. percaya dan berserah diri bahwa semua yang hadir tidak kebetulan, sarat pesan , ilmu, dan kasih. Itu sebabnya, bersyukur merupakan ‘State of Being’, keseharian kita dalam bersikap.

2. Setelah keseharian kita capai, maka bukti bahwa kita bersyukur adalah kita berKarya (Creation). Karya merupakan aset yang dihasilkan dari kebiasaan mencipta. Tanpa Karya, Passion adalah mimpi, dan Purpose adalah slogan. Karya adalah penghubung Passion dan Purpose. Bukti bahwa kita memang benar-benar memiliki Passion adalah kemampuan kita menciptakan karya. Dan karya tersebut tidak hanya dinikmati sendiri, namun memiliki kemanfaatan bagi orang lain (Purpose). Mencipta, bukan tindakan sesekali, namun dibangun dari kebiasaan. Kebiasaan ini akan mengasah ketrampilan hingga kemahiran bisa dicapai. Karya merupakan ‘State of Transforming’, karena ia mentransformasikan rasa syukur menjadi karya nyata yang bermakna. Orang yang bersyukur, menggunakan waktu, kemampuan, dan hasratnya dan mentransformasikan ide, energi, dan kemampuan yang dimiliki untuk menciptakan sesuatu yang tidak hanya ia nikmati, namun memberikan makna dan manfaat bagi orang lain.

3. Karya sejati tidak untuk dinikmati sendiri. Karya sejati Memberdayakan (Empowerment). Orang-orang yang menggunakan karya tersebut tidak saja merasakan manfaat sesaat, namun juga menjadi berdaya. Lebih dari sekadar menggunakan karya tersebut, mereka mendapatkan energi tambahan, ide baru, dan merasa dibukakan jalan untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Situasi ini memberikan makna bagi kita, karenanya kondisi ini disebut sebagai ‘State of Meaning’. Ya, kita merasa bahwa hidup menjadi bermakna, dan membuat kita kian bersyukur.

Kebersyukuran merupakan kondisi keseharian karena kita sadar sesadar-sadarnya menerima dan menjalani cahaya yang dititipkanNYA. Akibat dari rasa syukur tersebut cahaya yang hadir ditransformasikan dalam bentuk karya nyata. Dan karya nyata terbaik adalah yang memberikan makna serta energi bagi yang lain, tidak saja untuk menggunakannya, namun juga mendorong untuk orang lain berkarya sesuai dengan cahayanya masing-masing. Akibatnya, kita yakin bahwa hidup kita bermakna, yang menyebabkan kita kian berysukur serta bersemangat untuk terus mencipta. Ketiga hal ini merupakan perputaran hidup menuju Passion dan Purpose kita – Cycle of Passion and Purpose.