2014 Resolution? No Passion, No Point

December 27, 2013 | RENE

SCROLL TO READ

Apa yang paling lazim kita lakukan menjelang akhir tahun selain liburan, makan-makan dan jalan-jalan? Jawabannya bisa jadi menyusun resolusi. Bener nggak? Jika anda termasuk yang secara konsisten menuliskan aspirasi, komitmen dan rencana-rencana setiap tahun maka anda tergabung dalam 45% warga terdidik yang tinggal di kota-kota besar. Angka ini berasal dari sebuah riset yang dilakukan oleh majalah Forbes terbitan Amerika Serikat. Saya yakin prosentase yang tidak terlampau berbeda juga berlaku di Indonesia. Topik resolusi sudah bertahun-tahun menjadi pembahasan umum setiap akhir tahun di media mainstream seperti TV dan radio bahkan hingga media sosial. Resolusi umumnya tersusun dalam bentuk checklist alias daftar. Jumlahnya berkisar antara 3 hingga belasan atau bahkan puluhan. Isinya bisa macam-macam mulai dari yang saya duga paling populer: mengurangi berat badan (sudah pasti saya tergabung dalam kelompok ini) hingga berhenti merokok. Mulai dari punya pekerjaan baru, bisnis baru hingga pacar baru. Mulai dari punya gadget terbaru, jalan-jalan ke negara-negara idaman hingga punya rumah baru. Pokoknya segala hal yang terlintas dalam pikiran dan terasa keren menurut standar masa kini saat merasa harus menuliskan resolusi.

Apa resolusimu untuk 2014? Pertanyaan ini hampir-hampir jadi pembahasan umum yang mendominasi obrolan antara pertengahan Desember hingga tanggal 1 Januari. Setelah itu? Walahualam. Jangankan dikerjakan, lha wong dipikir dan dibicarakan saja tidak. Tidak heran riset yang sama mengindikasikan cuma kurang dari 8% dari total pelaku resolusi tahun baru berhasil mencapai salah satu dari sekian banyak hal yang diresolusikan. Artinya jika setiap orang rata-rata punya 5 resolusi maka hanya 1 dari 15 orang yang mencapai salah satu dari resolusinya. Saya sendiri lebih sering termasuk kedalam bagian 92%. Bagaimana dengan anda?

Resolution is NOT the same as to-do-list. Punya resolusi sah-sah saja, bahkan boleh jadi baik karena apapun yang ditulis seharusnya bisa jadi referensi atau pemicu dalam menjalani pekerjaan, karier, bisnis dan kehidupan pada tahun menjelang. Tapi resolusi juga tidak banyak bermanfaat jika hanya berupa daftar panjang yang tidak bisa dirasakan dan dimaknai. Akibatnya resolusi macam ini dengan sangat mudah, perlahan tapi pasti akan… dilupakan.

There is no point of having resolution without knowing your passion. To-do-list panjang yang tidak kunjung diperbaharui justru bakal berdampak buruk. Setiap kali melihat daftar tersebut bisa jadi justru muncul perasaan tidak berdaya atau lebih buruk lagi, tidak berguna. Atau dalam kondisi lain, seringkali daftar tersebut sudah terlupakan sama sekali sesaat setelah hingar bingar perayaan tahun baru. Alasannya? Karena memang tidak lebih dari sekedar formalitas belaka. So, why bother?

Self-improvement is the result of greater self-awareness. Saya sama sekali tidak menganjurkan anda untuk melupakan resolusi, namun pastikan proses penyusunannya sejalan dengan prioritas hidup, antusiasme dan ya lagi-lagi.. passion anda! Apa sih yang senantiasa membuat anda penasaran? Hal-hal apa yang membuat waktu berlalu begitu cepat tanpa terasa? Apa saja sumber kegemasan dan kepedulian anda? Awali penulisan resolusi dari sini. Lupakan dan buang jauh-jauh hal-hal yang tidak dapat anda rasakan maknanya.

Apa gunanya menuliskan bepergian ke Paris, London atau New York jika memang anda tidak menikmati jadi pengelana? Kenapa harus menetapkan turun berat badan jika komitmen ini hanya didasari pada kewajiban memuaskan pasangan dan bukan dari diri sendiri? Erich Fromm pernah memaparkan urutan penting dalam menjalani hidup yang berdaya dan bermakna. Urutan yang sama bisa dijadikan sebagai pedoman dalam menyusun resolusi 2014: “Be yourself. Do what you love. Have what you need.” Happy New Year! May 2014 brings you countless meaningful moments.