Activity

December 19, 2013 | RENE

SCROLL TO READ

Lama kelamaan, orang menyadari bahwa Output membutuhkan waktu. Karenanya, sadar maupun tidak, sebagian orang mulai menilai suksesnya bukan dengan apa yang dihasilkan, namun juga dengan apa yang dikerjakan – Activity.

Orang cenderung fokus ke Activity, karena penting bagi mereka untuk tahu apa ‘job title’ nya. Semakin keren ‘job title’ nya, semakin ia merasa sukses. Contoh lain adalah tingkat kesibukan. Sebagian orang merasa nyaman bahwa ia sangat sibuk dengan kegiatannya. Lembur dan tidak makan siang, terkadang menjadi barometernya. Lebih jauh, cara orang mencari kerja adalah dimulai dengan ‘job description’ dari posisi yang ada, baru ia mengevaluasi apakah ia memiliki skill dan minat yang cukup.

Mengacu pada tulisan Output sebelumnya, maka bisa kita hipotesakan bahwa ada dua kutub yang mengukur tingkat sukses seseorang: Output dan Activity. Menarik untuk disimak bahwa, Output dan Activity bersifat saling mempengaruhi. Dengan adanya target Output, maka Activity akan dilakukan. Sebaliknya orang habis-habisan melakukan Activity, dengan harapan ada Output – apapun itu – dari yang dilakukannya.

Gejala yang umum dicermati, semakin orang fokus ke Output dan Activity, dengan berjalannya waktu, semakin ia mulai merasa (bukan sekadar berpikir), bahwa apa yang dilakukannya kian menjauhkan dengan apa yang diinginkan. Namun, karena norma yang hadir meminta kita fokus ke dua hal ini, maka otak kita mengingatkan bahwa memang inilah satu-satunya cara untuk meraih sukses.

Coba diRASA:
Apa benar kalau kita makin sibuk kita makin sukses (baca: makin #Nyala!)? Atau kalau yang kita hasilkan makin besar, kita makin sukses (baca: makin #Nyala!) ? Kalau bukan, lalu apa?

Colek saya di @ivandeva dengan #Nyala!