Today’s HR Practitioners: The Relevance of Being Irrelevant

December 12, 2013 | RENE

SCROLL TO READ

Apa jadinya organisasi tanpa unit sumber daya manusia (SDM)? Pertanyaan ini pernah diajukan beberapa tahun lalu oleh seorang CEO perusahaan besar saat memulai paparan panjang lebar mengenai dinamika manusia dalam organisasi. Menariknya sang CEO berasal dari latar belakang SDM – sangat tidak lazim untuk orang nomor satu dalam sebuah organisasi. Umumnya posisi kunci ini didominasi oleh professional berlatar belakang sales / marketing atau keuangan. Saya ingat betul bagaimana ruangan berubah hening saat pertanyaan – dan serentetan otokritik tadi diajukan. Beliau berhasil menyita perhatian mayoritas peserta seminar yang – tanpa kebetulan – adalah berbagai tingkatan praktisi SDM dari berbagai perusahaan. Pertanyaan yang semakin relevan sekarang dan di masa depan. Apakah SDM masih relevan dalam rancang bangun organisasi? Pertanyaan bentuk berbeda, apakah peran SDM bisa dirasakan kehadirannya oleh setiap anggota organisasi?

SDM. Saya sengaja menggunakan istilah paling umum agar mudah dipahami. Jika melihat kebelakang bisa dijumpai paling tidak satu lusin nama alternatif termasuk personalia, human capital hingga yang terbaru human engagement atau people analytics. Tapi intinya tetap sama, sebuah unit yang bertugas menjadi jembatan antara organisasi dan individu. Sebuah divisi yang mengurus berbagai aspek manusia dalam organisasi. Berhubung manusia adalah titik sentral organisasi, maka seharusnya unit SDM adalah pemegang kunci utama bagi keberlangsungan usaha. Nah, faktanya tidak demikian. Bisa jadi kelompok yang paling merasakan perlunya kehadiran unit SDM adalah orang-orang yang tergabung dalam unit SDM itu sendiri.

Do you feel the presence of your human resource unit? Jika boleh jujur, berdasarkan pengalaman pribadi – saya menyaksikan bagaimana peran SDM semakin jadi tidak relevan dalam organisasi. Kenapa bisa begitu? Seringkali unit SDM memperoleh alokasi anggaran, prioritas dan perhatian paling kecil dibandingkan unit-unit lain. Dalam banyak organisasi SDM ditetapkan sebagai fungsi pendukung (baca: bukan utama).

Most human resource professionals are rule enforcers, not innovators. SDM dipahami sebagai penata & pelaksana administratif segala perkara terkait manusia, namun sangat jarang pelaksana SDM mampu atau dimampukan sebagai innovator. Saya khawatir fungsi SDM dalam sebagian besar organisasi di Indonesia sama sekali belum beranjak dari pola yang telah ditetapkan 20 atau bahkan 30 tahun lalu.

Old ways die hard, they just become more and more irrelevant. Ketidakrelevanan unit SDM semakin terasa saat beragam prosedur, metodologi & berbagai piranti sudah tidak lagi efektif. Indikasi paling jelas tergambar dalam beberapa fakta ini: (1) Semakin sulit mencari, mempertahankan & menumbuhkembangkan tenaga kerja, (2) Semakin repot memastikan interaksi positif yang memberdayakan dalam organisasi, (3) Semakin rumit menetapkan peran sebagai pemberdaya manusia sekaligus pendorong bisnis.

Apakah unit SDM masih relevan? Saya percaya betul jawabannya ya 100% namun perlu perubahan mendasar dari cara pandang teman-teman SDM dalam melihat kehadiran unit SDM. Kolom ini ditulis dengan harapan bisa menjadi awal banyak percakapan untuk mengkaji masalah ini lebih lanjut. Saya berangan-angan mayoritas organisasi Indonesia menempatkan manusia sebagai titik sentral organisasi. Caranya? Dengan menumbuhkembangkan semua anggota organisasi dalam kesadaran, kewarasan & keseimbangan. Dengan melazimkan kolaborasi untuk kerja, karya & kreasi. Dengan memanusiakan manusia. A system built on control will not last. People are not resources, people are sources of many great things in life. Treat people as people.