Will Doing a Good Job Guarantee You Getting Good Money?

December 8, 2013 | STEVE

SCROLL TO READ

Banyak orang yang sangat rajin, pandai, dan berbakat bekerja di berbagai institusi, tetapi mereka tidak mendapatkan kompensasi yang sesuai dengan bakat dan kinerja mereka. Apa yang harus kita lakukan dengan pengetahuan, bakat, dan kemampuan kita agar membawa kinerja yang menguntungkan bagi perusahaan maupun bagi kita sendiri?

Will great money follow great work? 

Banyak orang menyalahartikan pemeo “Great money will follow great work” dengan anggapan “Jika saya bekerja dengan baik, maka sukses dan uang akan datang dengan sendirinya”. Berdasarkan pada pengamatan saya selama 23 tahun berkarier mulai dari entry level hingga manajemen puncak, baik di perusahaan multinasional, perusahaan keluarga, BUMN, ataupun di organisasi besar atau organisasi kecil, anggapan tersebut sering kali membawa masalah bagi mereka yang meyakininya.

Mengapa demikian? Karena anggapan itu keliru.

Melakukan pekerjaan secara baik dan rajin serta memiliki pengetahuan, bakat, dan ketekunan kerja yang luar biasa sekalipun tidak akan membawa Anda naik panggung kemasyhuran, kesuksesan, dan kekayaan secara otomatis. Kenyataan menunjukkan bahwa jika kita tidak memahami cara mendayagunakan pengetahuan dan bakat yang kita miliki serta melakukan tindakan secara tepat, apa yang kita lakukan kemungkinan besar tidak akan mendapatkan penilaian yang sepadan baik secara profesional maupun finansial.

Knowledge is power? Not anymore.

Pada abad ke-16, Sir Francis Bacon dari Inggris memopulerkan pemeo “Knowledge is power”. Namun, kenyataan saat ini sudah tidak demikian. Pada abad ke-16, informasi dan komunikasi sangat tidak sempurna, dan ada segelintir orang yang dapat memperoleh informasi dalam seminggu lebih banyak dari yang dapat diperoleh kebanyakan orang seumur hidup mereka!

Hingga tahun 1990-an, para ahli yang akan membuat makalah atau disertasi harus melakukan studi literatur di perpustakaan atau meminta data yang sulit dan lama untuk diperoleh. Namun, hari ini, setiap siswa sekolah dasar sekalipun dapat mengakses internet dan memperoleh informasi yang dulu harus diriset berbulan-bulan hanya dalam hitungan detik. Mendapatkan informasi itu mudah, tetapi menghasilkan sesuatu dari informasi itu yang tidak mudah.

How to turn your knowledge into power

Bertentangan dengan banyak pelajaran yang kita terima, kemampuan teknis yang tinggi tidak menjamin bahwa kinerja yang dihasilkan juga akan tinggi. Apakah itu berarti tanpa kemampuan teknis yang tepat kita bisa bekerja di mana saja dan menghasilkan kinerja tinggi? Tentu tidak. Pengetahuan dan kemampuan tetap dibutuhkan. Tetapi ada hal penting lainnya yang dapat sangat membantu kita untuk bisa menghasilkan kinerja yang baik.

Duo organizational psychologist, T. Judge dan B.A. Scott, dari University of Florida melakukan riset pada 2009. Mereka menemukan fakta bahwa popularitas berperan besar dalam keberhasilan seseorang di lingkungan kerja. Popularitas dalam hal ini berarti “diterima secara baik oleh rekan kerja” serta “dikenal secara baik oleh atasan dan bawahan”. Mengapa demikian? Hasil riset Judge dan Scott menyatakan bahwa para pegawai atau pemimpin yang populer memiliki kelebihan di sisi interaksi interpersonal, selain kemampuan kinerja fungsional. Hal tersebut menyebabkan mereka mampu berkomunikasi secara lebih baik sehingga pekerjaan mereka dapat diselesaikan secara lebih mudah dan cepat.

Ada beberapa tips yang telah saya teliti, olah dan terapkan berdasarkan hasil riset University of Florida di atas yang dapat Anda praktikkan untuk meningkatkan kemampuan Anda agar lebih piawai berinteraksi dan mencapai sukses berkinerja.

1. Lebih memperhatikan orang lain secara tulus.
2. Pindahkan perhatian dari diri Anda.
3. Pancarkan kepercayaan diri yang natural dan positif.
4. Bantulah orang lain sebisa mungkin.

Dengan menerapkan tips-tips di atas, Anda dapat meningkatkan success rate baik sebagai profesional maupun pelaku bisnis dan menghindari kesalahan yang saya lakukan di awal karier saya. Dulu, saya bekerja membanting tulang dengan menyerahkan seluruh hati dan pikiran, tetapi saat itu tidak ada satu orang pun di manajemen yang menyadari apa kontribusi saya bagi perusahaan tempat saya bekerja. Syukurlah, akhirnya saya sadar dan mengubah pendekatan saya, sehingga akhirnya kontribusi saya dapat diterima dengan lebih baik oleh semua orang, sehingga akhirnya dapat menghasilkan kontribusi positif yang lebih bermanfaat bagi perusahaan tempat saya berkarir. Hal itu selalu membuat saya teringat nasihat ibu Kosasih, ibu saya tercinta yang juga merupakan guru bahasa Inggris saya, “Knowledge is power only if you know how to use it and take action upon it!”.