Being Professional = Being Personally Responsible

December 6, 2013 | RENE

SCROLL TO READ

Apa baju kerja yang lazim anda pakai setiap hari kerja? Mungkin hem berwarna putih atau warna-warna pastel lengkap dengan dasi dan jas? Atau mungkin juga seragam yang diberikan perusahaan? Atau bisa juga batik? Pernah ada masanya saya juga harus mengenakan pakaian kebesaran para penghuni segitiga emas Jakarta – maksudnya bukan pakaian yang terlalu besar lho, tapi celana panjang bahan, hem putih atau biru, dasi dan jas. Saya tidak terlalu bersahabat dengan dasi karena selalu sesak setiap kali harus mengancingkan baju hingga pangkal leher. Syukurlah, baju kerja saya sekarang adalah hem kotak-kotak lengan panjang yang digulung 1/3, celana jeans hitam atau biru dan sneakers berwarna cerah. Terkadang saya juga pakai batik lengan pendek buatan @TikShirt dari sahabat saya @iwetramadhan. Pilihan go-casual ini sejalan dengan aktivitas yang saya tekuni sejak beberapa tahun terakhir. Saya banyak berkeliling kota dan Indonesia, sebagian besar berinteraksi dengan orang-orang muda dan jika harus berkantor juga di coworking space @CommaID yang berisikan teman-teman dari berbagai startup dan organisasi. Pertimbangan utama pakaian kerja tentu harus nyaman dipakai – pertimbangan lain tentu harus tampak mencerminkan value yang saya yakini dan… tampak keren!

Tempo hari saya diminta oleh salah satu klien untuk tampil profesional dengan tidak mengenakan jeans ataupun atribut lain yang termasuk kategori casual. Saya percaya niatnya baik yaitu agar tidak dianggap aneh bin serampangan oleh sang atasan yang senantiasa tampil “profesional”. Saya pikir ini menarik – apakah cara berpakaian menentukan profesionalisme seseorang? Atau jika tidak, apakah ada pertimbangan lain? Hal apa saja sebenarnya yang menjadi dasar pertimbangan profesionalisme?

Being professional is NEVER about being formal. Saya tidak percaya profesional artinya formal dalam hal berpakaian, berbicara atau bertindak. Kalau boleh jujur nih, bisa dibilang saya begah-enggan-sebal setiap kali harus berhadapan dengan bermacam wujud formalitas berlebihan. Kenapa harus berbicara dengan suara & intonasi seperti pengumuman loud speaker bandara? Kenapa musti bersikap menjaga jarak dan dingin setiap kali berjumpa orang baru? Kenapa harus mengucapkan hal-hal yang tidak dapat kita rasakan maknanya?

Being professional is NOT the same as being A PROFESSIONAL. Apakah menjadi profesional artinya tidak lagi jadi amatiran? Atau tidak lagi bekerja paruh waktu dan sudah sepenuhnya punya profesi tertentu? Jika demikian apakah maksudnya semua profesi – dokter, bankir, tentara, pengacara dan politisi – artinya sudah pasti profesional? Apakah perilaku para pemangku profesi ini sudah tidak akan mempengaruhi profesionalisme mereka? Saya yakin jawabannya 100% tidak.

There is no certification for being professional. Jadi apa sebenarnya makna menjadi profesional? Beruntung ayah yang membesarkan saya, Pik Singgih pernah menyampaikan sebuah wejangan yang masih saya ingat sampai hari ini soal profesionalisme. Menurut ayah saya, menjadi profesional artinya senantiasa-tanpa-kecuali-tanpa-alasan-apapun SELALU mengedepankan idealisme profesi SEBELUM kepentingan pribadi. Jika demikian, tidak ada satupun mekanisme sertifikasi dan kualifikasi yang bisa diterapkan untuk menjamin profesionalisme seseorang. It’s all back to you.

Menjadi profesional adalah pilihan (dan tanggung jawab) pribadi yang harus dipertanggungjawabkan pada orang lain, organisasi, masyarakat dan alam semesta. Mempunyai profesi adalah mendapatkan peluang berkarya, kesempatan berkreasi dan ajakan berdaya dalam hidup melalui serangkaian idealisme, nilai-nilai dan etika. Menyambung kembali pada cerita diatas, saya akhirnya mengganti jeans dengan celana bahan, mengenakan batik dan.. sneakers berwarna cerah  Being professional is about being personally responsible with your profession – and your life.