Having A Great Career = Living Your Life Priorities

November 30, 2013 | RENE

SCROLL TO READ

Hello! Boleh saya ajak berandai-andai sejenak? Apa jadinya jika tiba-tiba anda punya uang sejumlah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Jika Rp. 100 juta adalah angka yang besar untuk anda, coba kalikan angka itu dengan 100, jadi Rp 10 Milyar! Jika dirasa belum cukup coba dilipatsepuluhkan lagi hingga mencapai Rp. 100 Milyar. Tidak usah terlalu dipikirkan datangnya dari mana karena namanya juga permainan berandai-andai. Tapi jika anda jenis orang yang butuh penjelasan bisa saja kita sepakati uang tersebut halal 100% dan anda tidak merugikan siapapun. Mungkin anda menerima warisan dari kerajaan antah berantah kaya karena ternyata anda adalah garis keturunan yang baru ditemukan kembali. Atau mungkin seperti kisah Sulastri, seorang TKI yang belum lama ini menerima warisan Rp. 9.5 Milyar dari mendiang majikannya, anda juga memperoleh warisan dari orang yang sudah sekian lama anda layani. Atau paling gampang bisa juga anda jadi pemenang Mega Lottery yang diselenggarakan di Amerika Serikat saat iseng-iseng mencoba peruntungan. Nah, seandainya, anda punya Rp. 100 Milyar, apakah anda masih akan tetap bekerja seperti biasa hari Senin nanti? Apakah anda akan tetap menjalani rencana karier yang sudah dimatangkan sebelumnya? Jika tidak, apa yang akan anda lakukan? Coba bayangkan beberapa menit saja dengan meletakkan harian ini sambil menerawang dan minum kopi.

OK – jika anda memutuskan untuk keluar dari pekerjaan artinya kehidupan profesional yang anda jalani sekarang hampir pasti berbeda dengan prioritas hidup yang anda kehendaki. Jika anda memilih untuk tetap bekerja namun dengan melakukan beberapa penyesuaian seperti beralih jadi part time, atau memutuskan membeli dan mengambil alih perusahaan tempat bekerja (hey, kan anda punya Rp 100 Milyar, dan kalaupun kurang, silahkan berandai lagi untuk menambahkannya hingga mencukupi) – ini artinya anda menjalani karier yang relatif konsisten dengan sistem nilai yang anda yakini. Nah, kalau anda merasa tidak akan melakukan apapun artinya, anda tidak terlalu pandai berandai-andai atau mungkin memang kurang imajinasi. Tidak jelek tapi tidak seru saja.

A great career is impossible without knowing and living one’s life priorities. Pertanyaan berandai-andai tadi lazim diberikan untuk memberi gambaran bagaimana prioritas hidup ditetapkan dalam kehidupan profesional. Seringkali keduanya berjalan dalam jalur masing-masing, seolah-olah kehidupan profesional yang kita jalani sama sekali tidak berhubungan dengan totalitas kehidupan yang kita inginkan. Atas nama kebutuhan seringkali pemikiran dan percakapan soal prioritas hidup tidak mendapat porsi sama sekali.

Your job is a tool, a mandate or means, while your career is the journey itself. Tidak ada pekerjaan idaman sebagaimana tidak ada pekerjaan buangan. Segala bentuk kerumitan, kegaduhan & kerunyaman dalam organisasi bersumber dari sang empu pekerjaan, bukan pekerjaannya. Tidak ada bahagia atau sukses hakiki tanpa memperdulikan penataan prioritas hidup sendiri.

You are responsible to design your own life. Saat menuntaskan jenjang perguruan tinggi ada semacam keyakinan bahwa kita punya waktu, banyak sekali waktu. Pasti ada cukup waktu untuk melakukan segalanya. Sayapun juga merasakan hal yang sama. Sekarang? Saya justru merasa begitu banyak waktu telah terbuang percuma untuk hal-hal yang tidak terkait dengan hal-hal terpenting yang saya tetapkan sebagai prioritas hidup.

Uang memang penting, terkadang uang juga menyenangkan, namun uang sama sekali bukan segalanya. Hal yang sama berlaku untuk kekuasaan, kebanggaan dan beragam wujud sumber kesombongan lainnya. Akhiri berandai-andai dengan keyakinan kalau semua kebutuhan sudah dipenuhi Sang Pencipta. Tanya pada diri sendiri 3 pertanyaa ini: Dunia macam apa yang akan saya tinggalkan untuk para penerus? Apa peran saya dalam menjadikannya (sedikit) lebih baik? Siapa saja yang saya harap akan mendampingi saya menjelang ajal nanti? Jawaban anda = prioritas hidup anda. Sebagaimana dengan sangat tepat disampaikan oleh Mahatma Gandhi: Action expresses priorities.