You were Born Unlike Nobody Else

November 22, 2013 | RENE

SCROLL TO READ

Siapa bilang kita unik? Apakah anda menggunakan rute yang sama setiap hari? Jika jawaban anda “ya” artinya sama dengan 90% pekerja lain yang selalu menggunakan rute sama setiap hari untuk menghindari ketidakpastian melewati jalan baru. Jika ada alasan lain mungkin sudah terlanjur lazim sehingga terpikirpun tidak untuk mencari rute berbeda. Bagaimana dengan pilihan tempat-tempat liburan keluarga? Saya duga jawaban paling populer bagi orang Jakarta adalah Singapura / Bali jika punya cukup uang – atau Bandung jika kantong cekak. Maka tidak heran jika 80% keluarga memilih tempat-tempat liburan yang direkomendasikan oleh teman, saudara atau media terpercaya. Sejalan dengan itu, tidak perlu kaget jika mayoritas keluarga selalu pergi ke mall yang sama setiap akhir pekan. Jadi dimana letak keunikan kita?

Dalam konteks pendidikan, melalui serangkaian observasi setiap kali mengikuti @KelasInspirasi saya dapati keberagaman yang juga semakin berkurang. Tidak percaya? Coba tanya anak-anak SD marjinal tentang cita-cita mereka. Saya jamin 3 profesi ini akan mendominasi: pemain sepak bola, artis dan dokter. Dua pilihan pertama karena pengaruh televisi. Sementara yang mau jadi dokter/guru hampir pasti pernah berinteraksi dan memperoleh inspirasi dari figur-figur penuh kepedulian dalam kehidupan mereka. Jika sebagian besar anak SD marjinal menjadi semakin tidak berbeda karena tontonan televisi, sebenarnya hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan kita secara umum. Bukankah kita semua ingin jadi sukses? Bukankah lebih mudah dan menenangkan untuk menghendaki jadi seperti pengusaha tajir melintir itu atau pejabat dan petinggi lain yang sering muncul di media? Bukankah kita paling tidak nyaman jika harus menjawab pertanyaan terkait dengan diri sendiri: Apa prioritas hidup kita? Apa hal-hal terpenting dalam kehidupan ini? Kenapa? Dan seterusnya.

If you are unique – why are you trying so hard to be someone else? Pertanyaan seputar inner-self adalah pertanyaan paling alamiah yang hampir tidak pernah ditanyakan oleh orang-orang terdekat, termasuk oleh diri sendiri. Kita terlatih untuk bertanya berapa nilai ujian matematika, apa prasyarat kelulusan, berapa skor IPK dan persyaratan masuk tes CPNS. Tapi kita awam saat ditanya “Apa yang sedang dirasakan oleh diri sekarang?”

What makes you, you? Pertanyaan-pertanyaan seputar “kenapa” akan membantu proses pemahaman aspirasi diri. Celakanya, rancang bangun sistem pendidikan, mekanisme kerja organisasi dan tatanan hidup bermasyarakat sepertinya menitikberatkan untuk mencari jawaban-jawaban atas pertanyaan “apa?” dan “bagaimana?” – dan melupakan pentingnya untuk bertanya “kenapa?” Konsekuensinya, sebagian besar dari kita hampir selalu tidak menyadari hal-hal yang mendorong dan menggerakkan kita. Akibatnya, setiap orang bagaikan sebuah kapal yang melaut tanpa kemudi.

Are we all unique or are all just trying to be different? Kita dilahirkan dengan penuh segala keunikan. Problemnya saat tumbuh dewasa kita dipaksa menukar keunikan dengan keteraturan. Kita jadi terlatih untuk mengganti keistimewaan diri dengan tatanan dan kesopanan. Kita tidak lagi bertanya pada diri sendiri, namun lebih sering meminta izin – kepada orang tua, guru, dosen, atasan dan banyak orang lain. Mau sampai kapan menafikan keunikan diri?

Kelengkapan panca indra bisa jadi justru mempersulit kemampuan memikirkan, merefleksikan dan merenungkan diri sendiri. Jika benar-benar siap menjadi diri sendiri dengan segala keunikannya, silahkan jalankan langkah-langkah berikut:

(1) Tanya KENAPA untuk setiap prioritas dan pilihan hidup hingga anda benar-benar bisa merasakan jawaban anda.
(2) CERITAkan hal-hal yang hanya bisa diceritakan oleh anda.
(3) Jika ada cermin didekat anda, coba beranjak sejenak kesana untuk melihat pantulan anda. Tarik nafas. And tell this to the guy in front of the mirror: You were born unlike nobody else. All you need to do is to be yourself, everyone else is already taken – Oscar Wilde