The Seed Matters When The Soil is Right

November 14, 2013 | RENE

SCROLL TO READ

Pernah baca buku biografi? Lazimnya diterbitkan dalam rangka merayakan pencapaian seseorang setelah sekian puluh tahun bekerja, berjuang dan akhirnya… sukses! Sampul depan biasanya memuat gambar atau photo sang tokoh disertai judul yang sedikit banyak merupakan kesimpulan pembelajaran hidup. Isinya? Walaupun ragam cerita bisa sebanyak bintang di langit namun secera umum alurnya sama: Dari bukan siapa-siapa jadi seseorang atau from zero to hero. Jika anda lumayan rajin membaca biografi maka tidak bisa tidak akan sampai pada kesimpulan yang bisa dirangkum sebagai berikut: Pertama, sukses berawal dari talenta pribadi. Kedua, siapapun bisa merasakan kesuksesan jika tekun berusaha sangat keras. Dan terakhir, ini yang seringkali dilupakan, sukses seseorang butuh dukungan dari orang-orang dan lingkungan yang tepat.

Nah, problemnya faktor pertama dan kedua sudah kelewat sering mendominasi setiap diskusi soal kesuksesan. Personality / kepribadian orang sukses menjelma jadi satu-satunya faktor penting dalam membangun kesuksesan. Sehingga tidak jarang gaya berpakaian, gaya bahasa dan beragam gaya lain diadopsi oleh orang lain yang ingin menjadi sesukses sang tokoh. Kenapa dia sukses? Karena berhasil menempa diri dengan disiplin selama bertahun-tahun. Mau tahu resep sukses? Mari belajar dari sang pengusaha keren mentereng yang telah membangun puluhan perusahaan dengan aset triliunan. Sounds familiar?

Passion x Efforts x Time x Opportunity = Awesome Result. Sebelum saya dilempar tomat busuk karena terkesan nyinyir pada orang sukses – pertanyaan seputar pribadi sukses tidak salah, namun saya percaya bukan satu-satunya faktor penentu. Terlalu jarang kajian atau obrolan mengenai faktor ketiga: Lingkungan (baca: support system) yang mendukung kesuksesan. Saya berargumen faktor ini memegang peranan sama penting atau bahkan lebih penting dari dua faktor sebelumnya yang terfokus pada pribadi.

Passion is the activity that makes you feel empowered. Talenta (baca: passion) menyanyi bisa dimiliki banyak orang namun kenapa hanya segelintir orang yang bisa jadi seperti Andien atau Sherina? (Mereka adalah penyanyi favorit saya). Apa perbedaan antara keduanya dengan ratusan, ribuan atau bahkan jutaan orang lain yang pernah merasakan keasyikan bernyanyi namun tidak pernah benar-benar berkiprah sebagai penyanyi? Atau mungkin lebih tepat jika kita bertanya hal ini: Apa hal sama yang dilakukan (atau dialami) ketiganya sehingga bisa jadi penyanyi sekeren sekarang?

Success is about accumulated advantage – Robert Merton. Kalimat ini menandai sebuah fenomena sosiologi bernama Matthew Effect – diambil dari sebuah surat dalam Alkitab. Pesannya kurang lebih bermakna: Si kaya bertambah kaya sementara si miskin bertambah miskin. Apa hubungannya dengan pembahasan kita? Soal banyak pengusaha sukses yang muncul pasca krisis ekonomi 1998-2001 mungkin harus diteliti dari mana mereka memperoleh modal awal. Dan kenapa mereka bisa memperolehnya? Soal Andien & Sherina, mungkin harus dikaji bagaimana keluarga keduanya membesarkan mereka sehingga bisa memperoleh pelatihan terbaik dari orang-orang terbaik di bidang musik. Dan bagaimana keduanya bisa memperoleh kesempatan untuk berkiprah sejak sangat muda hingga sekarang?

Sebagai orang yang seringkali cuap-cuap soal passion, saya justru tidak sepakat jika passion dianggap sebagai segalanya. Passion adalah salah satu elemen penting namun sama sekali bukan satu-satunya yang penting. Pemahaman diri sendiri atas passion harus diikuti pemahaman yang sangat baik mengenai bagaimana dunia berputar. Dan bagaimana aturan main sebuah permainan ditetapkan. Kepedulian pada passion anak anda atau anak buah anda, harus dibarengi kepedulian untuk memastikan mereka memperoleh medium terbaik untuk tumbuh dan berkembang sesuai fitrah mereka. The seed only matters when the soil is right, the sun is warm and the water flows.