The More Haste, The Less Speed

November 8, 2013 | RENE

SCROLL TO READ

Berapa lama waktu yang bisa anda tolerir untuk menunggu? Sebut saja untuk menunggu makanan pilihan di sebuah restoran siap disajikan. Apakah 10 menit, ½ jam atau 1 jam? Kira-kira apa sih yang menjadi dasar penetapan ambang batas toleransi waktu menunggu untuk anda? Apakah ditentukan dari ketersediaan waktu jam makan siang – jika anda pegawai kantoran yang punya skedul padat. Atau mungkin asumsi pribadi atas perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk memasak pesanan anda? Jika jawaban anda maksimal ada dalam hitungan belasan menit, berarti kita sama. Mungkin sama seperti banyak orang Jakarta dan kota-kota besar lain, kita selalu ingin serba cepat. Apapun itu asalkan cepat! Pesan makan harus cepat. Makanpun juga cepat. Kerja wajib cepat supaya cepat naik pangkat. Mengambil keputusan mutlak sama… cepat! Pertimbangan kecepatan mendominasi semua aspek kehidupan. Kalau bisa beres dalam waktu sejam kenapa harus sehari? Jika bisa dalam hitungan menit, bahkan detik, kenapa harus jam? Sounds familiar?

Ibu saya seringkali menjuluki saya kelewat grasak-grusuk karena kecenderungan yang satu ini. Jujur saja, sampai sekarangpun grasak-grusuk masih berlanjut namun mudah-mudahan sudah lebih berkurang – bisa jadi karena faktor U (baca: umur!). Grasak-grusuk adalah istilah bahasa Jawa yang mungkin bisa diterjemahkan sebagai ceroboh karena ya itu tadi, selalu terburu-buru. Nah, belakangan saya semakin bisa memaknai grasak-grusuk bukan sekedar sebagai sebuah kata namun konsekuensi.

Sloppiness is ALWAYS costly. Problem besar dalam karier, bisnis dan kehidupan seringkali merupakan akumulasi dari kegagalan-kegagalan kecil. Dan kegagalan kecil seringkali diawali oleh ketidaksabaran / ketidaktekunan / ketidakgigihan dalam berproses. Saya merasakan, dan sekarang benar-benar meyakini pernyataan ini. Ketidaksabaran mengkaji peluang usaha berujung pada bisnis yang stagnan. Ketidaktekunan mendidik team kerja berakibat pada ketergantungan berlebihan pada diri sendiri.

Do small things right before doing big things. Jika tidak ada waktu untuk mengerjakan hal kecil dengan benar maka bisa dipastikan tidak akan pernah ada cukup waktu untuk mengerjakan hal besar dengan benar. Bahkan apapun yang kita anggap sebagai hal terbesar dalam kehidupan tidak lebih sebagai kumpulan hal-hal kecil. Lupakan target jadi boss besar jika masih belum bisa menyapa orang lain dengan kepedulian. Buang jauh-jauh mimpi besar punya rumah megah ditengah kota jika masih belum bisa menguasai diri untuk tidak membeli hal-hal yang tidak diperlukan.

People will forget how fast you did a job, but many will remembers how well you did it. Dalam sebuah tulisan (saya lupa persisnya dimana), mendiang Henry Ford pernah mempromosikan seorang tukang sapu yang dengan teliti, tekun & konsisten memastikan kebersihan lantai pabrik mobil Ford. Tukang sapu tersebut dipromosikan sekaligus dididik menjadi insinyur metalurgi dan belakangan jadi orang nomor satu di divisi tersebut.

Nobody hates a job well done. Apa yang mendasari keputusan Henry Ford? Dia percaya orang yang mampu mengerjakan hal-hal kecil dengan sangat baik akan mampu diberi tanggung jawab lebih besar. Dan jika harus memilih antara kecepatan bekerja dan ketepatan mengerjakan tugas maka pilihlah yang tepat lebih dulu sebelum yang cepat.

Menunggu dengan sabar dan memahami kebutuhan untuk berproses adalah konsep yang masih terus saya pelajari dengan susah payah hingga sekarang. Berproses adalah sebuah kebutuhan alamiah menjadikan sesuatu lebih baik dari sebelumnya. Dan mata uang terpenting dalam berproses adalah kesabaran, ketekunan & kegigihan.
Nah, kembali ke urusan berapa lama bersedia menunggu di restoran – siapa tahu makanan pesanan anda sedang diproses oleh juru masak menjadi sajian terbaiknya hari itu? Sebagaimana pernah disampaikan oleh Henry Ford: “It takes less time to do a thing right than to explain why you did it wrong.”